Dibaca : 10217 x

Artikel
Jumat, 06 Desember 2024
Resiko Burden Sharing bagi Bank Indonesia: Sebuah Tinjauan

Resiko Burden Sharing bagi Bank Indonesia: Sebuah Tinjauan

Kebijakan burden sharing
antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, yang dimulai pada tahun 2020,
menjadi salah satu langkah strategis untuk mengatasi tekanan ekonomi akibat
pandemi COVID-19. Melalui skema ini, BI mendukung pembiayaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN)
di pasar perdana. Meskipun kebijakan ini memberikan manfaat langsung dalam
menutup defisit anggaran, dampaknya terhadap neraca keuangan BI dan stabilitas
kebijakan moneter jangka panjang perlu mendapat perhatian serius.



Dukungan BI Melalui Pembelian SBN



Selama periode 2020-2022, BI
menggelontorkan dana sebesar Rp1.104,85 triliun melalui skema burden
sharing
. Hingga Juli 2024, kepemilikan BI atas SBN mencapai 23,75
persen dari total outstanding obligasi negara, atau setara dengan Rp1.374,61
triliun. Angka ini melebihi porsi kepemilikan SBN oleh sektor perbankan,
asuransi, dana pensiun, dan manajer investasi, yang berkisar 22 persen.



Langkah ini memberikan ruang
fiskal bagi pemerintah untuk membiayai program pemulihan ekonomi nasional.
Namun, kebijakan tersebut juga membawa risiko yang signifikan, baik bagi neraca
BI maupun stabilitas kebijakan moneter.



Risiko Bagi Neraca Keuangan BI



Salah satu risiko utama dari burden
sharing
adalah tekanan terhadap neraca keuangan BI. Skema ini menggunakan
pendekatan yang mendekati zero coupon bond, sehingga BI harus menyerap
SBN dengan tingkat imbal hasil nol persen. Kondisi ini menambah beban keuangan
BI karena:




  1. Penurunan
    Pendapatan
    : BI tidak memperoleh imbal hasil dari obligasi yang
    diserap, sementara tetap harus menanggung biaya operasional dan kewajiban
    moneter lainnya.

  2. Peningkatan
    Liabilitas
    : Kepemilikan SBN yang besar memperbesar risiko keuangan BI
    jika nilai obligasi tersebut tertekan akibat perubahan suku bunga atau
    volatilitas pasar.



Ancaman terhadap Independensi Kebijakan Moneter



Selain dampak terhadap neraca
keuangan, kebijakan burden sharing juga memengaruhi fleksibilitas BI
dalam mengelola kebijakan moneter. Ketergantungan pemerintah terhadap dukungan
BI berpotensi mengaburkan batas antara kebijakan fiskal dan moneter, yang pada
akhirnya mengancam independensi bank sentral.



Kepemilikan SBN yang besar oleh
BI dapat mengurangi kemampuan bank sentral untuk melakukan open market
operation
secara efektif. Hal ini karena fokus BI menjadi terbagi antara
stabilitas moneter dan pembiayaan fiskal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat
menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan dan melemahkan kepercayaan
terhadap kebijakan moneter BI.



Mencari Solusi untuk Mengurangi Risiko



Untuk mengurangi risiko yang dihadapi BI akibat kebijakan burden
sharing
, beberapa langkah dapat dipertimbangkan:




  1. Penguatan
    Kerangka Kerja Kebijakan Fiskal


    Pemerintah perlu memastikan pengelolaan defisit anggaran yang lebih
    efisien agar ketergantungan terhadap dukungan BI dapat diminimalkan.
    Langkah ini meliputi optimalisasi pendapatan negara, pengurangan belanja
    yang kurang produktif, serta pengelolaan utang yang lebih hati-hati.

  2. Peninjauan
    Kembali Skema Burden Sharing


    Dalam jangka menengah, skema burden sharing dapat dikurangi secara
    bertahap agar BI dapat memulihkan fleksibilitas kebijakan moneter. Salah
    satu opsinya adalah dengan mengalihkan pembelian SBN kembali ke pasar
    sekunder.

  3. Diversifikasi
    Sumber Pembiayaan APBN


    Pemerintah perlu mendorong partisipasi yang lebih besar dari sektor swasta
    dalam pembelian SBN, baik melalui peningkatan daya tarik obligasi negara
    maupun insentif kepada investor institusi seperti asuransi dan dana
    pensiun.



Penutup



Kebijakan burden sharing
adalah langkah penting yang diambil dalam kondisi luar biasa untuk mendukung
pemulihan ekonomi. Namun, keberlanjutan kebijakan ini harus dievaluasi secara
hati-hati untuk menjaga kesehatan neraca keuangan Bank Indonesia dan memastikan
independensi kebijakan moneter tetap terjaga.



Bank Indonesia, sebagai bank
sentral, harus tetap mampu menjalankan mandat utamanya, yaitu menjaga
stabilitas nilai rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter perlu terus diperkuat,
dengan tetap memperhatikan batas kewenangan masing-masing.



Keseimbangan antara mendukung
pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas moneter adalah kunci untuk memastikan
kebijakan yang diambil membawa manfaat jangka panjang bagi perekonomian
Indonesia.



Dr. Rachmat, SE, MSE
Dosen STIE MULIA PRATAMA

Arsip Artikel:

Rabu, 15 Juli 2026
Ironi Digitalisasi Pajak: Ketika Sistem Baru Berjalan, Penerimaan Justru Menyusut

Jumat, 08 Mei 2026
Danantara dan GoTo: Ketika Negara Masuk ke Pasar

Kamis, 07 Mei 2026
Saat Pasar dan Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan

Rabu, 06 Mei 2026
Depresiasi Rupiah dan Stabilitas Makroekonomi: Antara Tekanan Global dan Kredibilitas Kebijakan

Sabtu, 02 Mei 2026
Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Jalan Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap

Jumat, 01 Mei 2026
Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan Indonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global

Jumat, 01 Mei 2026
Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan aindonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global

Minggu, 26 April 2026
DPD RI dan Ancaman Sentralisasi Fiskal: Ketika Suara Daerah Kian Meredup

Kamis, 23 April 2026
Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

Senin, 20 April 2026
Menjaga Stabilitas atau Sekadar Menjaga Surplus? Refleksi Kritis Kinerja LPS 2025

Arsip Artikel..


Mengenai Saya:

Dr. Rakhmat, SE, MSE

Saya adalah dosen di Kampus STIE MULIA PRATAMA dan juga sebagai tenaga ahli di DPR RI Komisi XI

Artikel Popular:


RUU Migas masih belum dibahas DPR
Proyeksi Nilai Tukar 2025: Antara Defisit Transaksi Berjalan dan Ketidakpastian Global
Menjaga Independensi Bank Indonesia dari Tarikan Politik
Syarat Untuk Menjadi Kampus Terbaik di Indonesia Versi QS WUR
Menggagas Ide Soehartonomics untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Resiko Burden Sharing bagi Bank Indonesia: Sebuah Tinjauan
Kasus Dana CSR BI. Apa yang sebenarnya terjadi?