Dibaca : 9941 x

Artikel
Senin, 21 April 2025
Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75% untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75% untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Jakarta, 21 April 2025 - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam rapat dewan gubernur yang akan digelar pada 23 April mendatang. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, yang sejak awal tahun ini telah melemah lebih dari 4% terhadap dolar Amerika Serikat.

Kenapa Suku Bunga Tidak Diturunkan?

Dalam kondisi normal, bank sentral bisa saja menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, saat nilai tukar rupiah melemah, menurunkan suku bunga justru bisa memperburuk keadaan, karena investor asing bisa menarik dananya keluar dari Indonesia, sehingga rupiah semakin tertekan.

Dengan mempertahankan suku bunga tetap, BI berharap bisa menjaga kepercayaan pasar dan mencegah arus modal keluar, terutama di tengah ketidakpastian global.

Dampak Eksternal: Ancaman Tarif Impor dari AS

Salah satu tantangan eksternal yang memengaruhi keputusan BI adalah kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat. Saat ini, tarif sebesar 32% masih ditangguhkan selama 90 hari, tetapi tetap menjadi ancaman bagi perdagangan dan ekonomi global, termasuk Indonesia. Jika tarif ini benar-benar diterapkan, maka akan memperlambat laju perdagangan dan berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia.

Apa Artinya?

  1. Pinjaman dan Kredit Tetap Stabil
    Suku bunga acuan berpengaruh terhadap bunga pinjaman di bank. Dengan BI menahan suku bunga, maka bunga kredit seperti KPR, kredit kendaraan kemungkinan besar tidak akan naik dalam waktu dekat.

  2. Harga Barang Impor Bisa Naik
    Karena rupiah melemah, harga barang-barang impor bisa menjadi lebih mahal. Ini termasuk barang elektronik, pakaian impor, atau bahan baku industri.

  3. Investasi Asing Tetap Diwaspadai
    BI menjaga agar investor asing tetap menaruh uangnya di Indonesia. Ini penting agar cadangan devisa tetap kuat, dan pemerintah bisa terus menjalankan program-program pembangunan.



Kesimpulan:
Bank Indonesia memilih untuk memprioritaskan kestabilan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan merupakan bagian dari strategi jangka pendek agar perekonomian tetap sehat dan tidak semakin tertekan oleh faktor eksternal.




Dr. Rachmat, SE, MSE
Dosen STIE MULIA PRATAMA

Arsip Artikel:

Rabu, 15 Juli 2026
Ironi Digitalisasi Pajak: Ketika Sistem Baru Berjalan, Penerimaan Justru Menyusut

Jumat, 08 Mei 2026
Danantara dan GoTo: Ketika Negara Masuk ke Pasar

Kamis, 07 Mei 2026
Saat Pasar dan Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan

Rabu, 06 Mei 2026
Depresiasi Rupiah dan Stabilitas Makroekonomi: Antara Tekanan Global dan Kredibilitas Kebijakan

Sabtu, 02 Mei 2026
Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Jalan Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap

Jumat, 01 Mei 2026
Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan Indonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global

Jumat, 01 Mei 2026
Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan aindonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global

Minggu, 26 April 2026
DPD RI dan Ancaman Sentralisasi Fiskal: Ketika Suara Daerah Kian Meredup

Kamis, 23 April 2026
Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

Senin, 20 April 2026
Menjaga Stabilitas atau Sekadar Menjaga Surplus? Refleksi Kritis Kinerja LPS 2025

Arsip Artikel..


Mengenai Saya:

Dr. Rakhmat, SE, MSE

Saya adalah dosen di Kampus STIE MULIA PRATAMA dan juga sebagai tenaga ahli di DPR RI Komisi XI

Artikel Popular:


RUU Migas masih belum dibahas DPR
Proyeksi Nilai Tukar 2025: Antara Defisit Transaksi Berjalan dan Ketidakpastian Global
Menjaga Independensi Bank Indonesia dari Tarikan Politik
Syarat Untuk Menjadi Kampus Terbaik di Indonesia Versi QS WUR
Menggagas Ide Soehartonomics untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Resiko Burden Sharing bagi Bank Indonesia: Sebuah Tinjauan
Kasus Dana CSR BI. Apa yang sebenarnya terjadi?