![]() |
|
Dibaca : 10041 x Artikel Sabtu, 01 Februari 2025 Hadapi Ancaman Tarif 100% Presiden Trump, Indonesia Siap atau Terpukul?
Dr. Rakhmat, SE, MSE Beberapa pekan lalu, dunia dikejutkan oleh ancaman
Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan mengenakan tarif impor
hingga 100% terhadap
negara-negara anggota BRICS. Ancaman ini bukan sekadar retorika. Trump, yang
dikenal dengan kebijakan proteksionismenya, telah membuktikan bahwa ia tidak
segan-segan menggunakan tarif sebagai senjata ekonomi. Pada masa
pemerintahannya yang pertama, ia memicu perang dagang dengan China dengan
mengenakan tarif tinggi, dan kini, ancaman serupa ditujukan kepada BRICS, sebuah
kelompok ekonomi yang mencakup 40%
populasi dunia dan 25%
PDB global. Indonesia, yang baru saja resmi bergabung dengan
BRICS, tiba-tiba berada di pusaran badai kebijakan perdagangan global.
Pertanyaannya adalah: Apakah ancaman Trump ini akan menjadi bencana bagi
perekonomian Indonesia, atau justru menjadi momentum untuk bangkit dan
melakukan transformasi ekonomi yang lebih besar? Dampak Langsung: Ekspor Terhambat,
Pertumbuhan Tertekan Tidak bisa dipungkiri, kebijakan tarif 100% ini akan
menyulitkan Indonesia. AS adalah pasar ekspor terbesar ketiga bagi Indonesia,
dengan nilai ekspor mencapai $23,3
miliar pada 2023 atau sekitar 10 % dari total ekspor Indonesia.
Produk-produk andalan seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik akan
kehilangan daya saing karena harga yang melambung tinggi. Sejarah telah
membuktikan bahwa tarif tinggi bisa mematikan ekspor. Ketika AS menerapkan
tarif pada baja dan aluminium Indonesia beberapa tahun lalu, ekspor produk
tersebut anjlok hingga 20%. Dampaknya tidak hanya pada neraca perdagangan, tetapi
juga pada pertumbuhan ekonomi. Ekspor menyumbang sekitar 20% dari PDB Indonesia, dan setiap
penurunan 1% ekspor bisa mengurangi pertumbuhan PDB sebesar 0,2-0,3%. Dalam situasi di mana
pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berada di kisaran 5%, penurunan ekspor ke AS bisa
menjadi beban tambahan yang signifikan. Tarif AS juga akan menambah tekanan pada nilai tukar
Rupiah. Ekspor yang menurun berarti devisa yang masuk juga berkurang, dan ini
bisa melemahkan Rupiah lebih lanjut. Pada tahun 2024, Rupiah sudah berada di
kisaran Rp15.000-Rp15.870 per
Dolar AS, dan depresiasi lebih lanjut bisa memicu inflasi melalui kenaikan
harga barang impor. Namun, di balik tekanan ini, ada peluang untuk
memperkuat fondasi ekonomi. Melemahnya Rupiah seharusnya menjadi alarm bagi kita
untuk mengurangi ketergantungan pada impor, terutama barang-barang yang
sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri. Ini adalah momentum untuk mendorong
industrialisasi dan substitusi impor, dua hal yang selama ini terabaikan. BRICS: Jalan Keluar atau Jebakan
Baru? Keanggotaan Indonesia dalam BRICS adalah faktor kunci
yang bisa mengubah narasi ini. BRICS, dengan 40% populasi dunia dan 25% PDB global, adalah kekuatan ekonomi baru yang tidak bisa
diabaikan. Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor ke
negara-negara BRICS, terutama China dan India, yang selama ini sudah menjadi
mitra dagang utama. Pada 2023, perdagangan Indonesia dengan negara-negara
BRICS mencapai $150 miliar,
dengan China menyumbang sebagian besar. Jika Indonesia bisa memanfaatkan
keanggotaan BRICS untuk memperkuat kerja sama ekonomi, ketergantungan pada
pasar AS bisa dikurangi. Namun, ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Indonesia harus bersaing dengan negara-negara seperti Vietnam dan India, yang
sudah lebih dulu membangun hubungan erat dengan BRICS. Kebijakan tarif AS ini seharusnya menjadi pengingat
bahwa Indonesia tidak bisa selamanya bergantung pada ekspor bahan mentah.
Sekitar 60% ekspor minyak sawit
Indonesia masih dalam bentuk mentah, dan ini membuat kita rentan
terhadap fluktuasi harga global. Saatnya untuk berpikir lebih jauh: bagaimana
mengubah minyak sawit mentah menjadi produk olahan bernilai tinggi? Bagaimana
mengubah bijih nikel menjadi baterai lithium untuk kendaraan listrik? Ini bukan hanya soal meningkatkan pendapatan ekspor,
tetapi juga tentang menciptakan lapangan kerja dan mendorong inovasi.
Pemerintah perlu memberikan insentif yang lebih besar untuk industri hilir,
sambil memastikan bahwa UMKM, yang menyumbang 30% dari ekspor non-migas, tidak tertinggal. Apa yang Harus Dilakukan? Pertama, pemerintah perlu segera merancang strategi
diversifikasi pasar ekspor. Indonesia harus segera mencari pasar alternatif untuk
mengurangi ketergantungan pada AS. Uni Eropa, Timur Tengah, dan Afrika adalah
pasar potensial yang belum sepenuhnya tergarap. Misalnya, ekspor ke Uni Eropa
pada 2022 mencapai $18 miliar, sementara ekspor ke Afrika tumbuh 12%. Ini menunjukkan bahwa ada peluang besar yang bisa digarap.
Keanggotaan Indonesia dalam BRICS harus dimanfaatkan secara maksimal. China dan
India, dengan populasi besar dan pertumbuhan ekonomi yang cepat, bisa menjadi
pasar baru bagi produk Indonesia. Pemerintah perlu memfasilitasi kerja sama
bisnis dan mengurangi hambatan perdagangan dengan negara-negara BRICS. Kedua, tingkatkan nilai tambah
ekspor, Indonesia
harus menghentikan praktik ekspor bahan mentah dan beralih ke produk olahan
bernilai tinggi. Misalnya, daripada mengekspor bijih nikel mentah, Indonesia
bisa mengembangkan industri baterai lithium untuk kendaraan listrik. Ini tidak
hanya meningkatkan pendapatan ekspor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.
Ketiga, memperkuat peran UMKM yang seringkali kesulitan mendapatkan akses ke
pembiayaan. Pemerintah perlu memperluas program kredit usaha rakyat (KUR)
dengan suku bunga rendah dan persyaratan yang lebih mudah. Ketiga,
Percepatan pembangunan infrastruktur. Pemerintah perlu mempercepat pembangunan
infrastruktur untuk meningkatkan daya saing ekspor. Proyek-proyek seperti
pelabuhan, bandara, dan jalan tol harus dipercepat untuk memastikan kelancaran
distribusi barang. Selain itu, pemerintah juga perlu mempercepat
transformasi digital dengan membangun infrastruktur internet yang merata dan
terjangkau. Ini akan mendukung pertumbuhan e-commerce dan industri digital.
Keempat, Pemerintah perlu melakukan diplomasi ekonomi untuk mengurangi dampak
tarif 100%. Misalnya, Indonesia bisa menawarkan kerja sama di bidang investasi
atau energi terbarukan sebagai ganti pengecualian tarif. Penutup: Siap atau Terpukul? Ancaman tarif 100% dari Donald Trump adalah ujian
besar bagi perekonomian Indonesia. Namun, seperti kata pepatah, "Dalam
setiap krisis, ada peluang." Ini adalah saatnya bagi Indonesia untuk
membuktikan bahwa kita tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga bangkit lebih
kuat. Keanggotaan dalam BRICS adalah kartu as yang bisa kita mainkan, tetapi
yang lebih penting adalah bagaimana kita memanfaatkan momentum ini untuk
melakukan transformasi ekonomi yang sesungguhnya. Jika kita bisa melakukannya, tarif 100% ini bukanlah
akhir dari cerita, melainkan awal dari babak baru dalam perjalanan ekonomi
Indonesia. Jika tidak, kita hanya akan menjadi penonton dalam percaturan ekonomi
global yang semakin kompetitif. Pilihannya ada di tangan kita. ![]() Dosen STIE MULIA PRATAMA Arsip Artikel: Rabu, 15 Juli 2026 Ironi Digitalisasi Pajak: Ketika Sistem Baru Berjalan, Penerimaan Justru Menyusut Jumat, 08 Mei 2026 Danantara dan GoTo: Ketika Negara Masuk ke Pasar Kamis, 07 Mei 2026 Saat Pasar dan Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan Rabu, 06 Mei 2026 Depresiasi Rupiah dan Stabilitas Makroekonomi: Antara Tekanan Global dan Kredibilitas Kebijakan Sabtu, 02 Mei 2026 Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Jalan Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap Jumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan Indonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global Jumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan aindonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global Minggu, 26 April 2026 DPD RI dan Ancaman Sentralisasi Fiskal: Ketika Suara Daerah Kian Meredup Kamis, 23 April 2026 Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang? Senin, 20 April 2026 Menjaga Stabilitas atau Sekadar Menjaga Surplus? Refleksi Kritis Kinerja LPS 2025
|
|
popular pages | login | © September 2024 . All Rights Reserved. |