ArtikelKamis, 25 Desember 2025
Normalisasi Tarif AS–China, Hilirisasi, dan Ujian Ketahanan Ekspor Indonesia

Meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada paruh akhir 2025 menandai fase normalisasi baru dalam perdagangan global. Penurunan tarif timbal balik, perpanjangan tarif hingga tahun 2026, serta tertundanya tarif sektor strategis seperti semikonduktor hingga tahun 2027, telah mengurangi jangka pendek yang selama dua tahun terakhir mendistorsi arus perdagangan internasional. Namun, normalisasi ini sekaligus mengakhiri kondisi rejeki nomplok yang selama ini dinikmati negara-negara ketiga, termasuk Indonesia, melalui mekanisme pengalihan perdagangan.
Sepanjang tahun 2025, kinerja perdagangan Indonesia mencerminkan manfaat langsung dari eskalasi tarif AS–China. Surplus perdagangan dengan Amerika Serikat meningkat tajam, mencapai sekitar 13,5 miliar dolar AS hingga September dan berpotensi melampaui 14 miliar dolar AS pada akhir tahun. Peningkatan ini terutama ditopang oleh ekspor manufaktur ringan dan menengah—tekstil, alas kaki, dan elektronik—serta produk logam hasil pengolahan lanjutan. Di sisi lain, permintaan Tiongkok terhadap komoditas primer Indonesia relatif bertahan, meskipun pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat. Namun, struktur perdagangan bilateral tetap tidak seimbang, dengan defisit Indonesia terhadap Tiongkok sekitar 14 miliar dolar AS hingga kuartal ketiga 2025.
Secara agregat, neraca perdagangan Indonesia hingga Oktober 2025 mencatat surplus kumulatif lebih dari 35 miliar dolar AS, mencerminkan ketahanan eksternal jangka pendek. Pertumbuhan ekspor tahunan berada di kisaran 7–8 persen hingga kuartal ketiga, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan perdagangan global. Namun, kemampuan ini perlu dibaca secara struktural. Sebagian besar penguatan ekspor tersebut bersifat siklikal dan sangat dipengaruhi oleh distorsi tarif global yang kini mulai menghilang.
Dalam konteks inilah, program hilirisasi yang digalakkan pemerintah menjadi faktor kunci pembeda antara ketahanan jangka pendek dan transformasi jangka panjang . Hilirisasi dirancang untuk menggeser struktur ekspor Indonesia dari dominasi bahan mentah menuju produk bernilai tambah lebih tinggi, sehingga mengurangi ketergantungan pada keyakinan harga komoditas dan permintaan negara tertentu. Data menunjukkan bahwa kebijakan ini mulai menghasilkan dampak nyata. Nilai ekspor produk berbasis pengolahan mineral—terutama besi baja dan nikel—meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan pelarangan ekspor pelepasan mentah dan percepatan pembangunan smelter. Kontribusi industri pengolahan terhadap ekspor nonmigas kini mendominasi, mencapai sekitar 70–75 persen dari total ekspor nasional.
Pada sektor nikel, hilirisasi telah mengubah posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Jika sebelumnya ekspor didominasi oleh bahan mentah, kini ekspor beralih ke feronikel, nickel pig iron, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik. Nilai ekspor besi dan baja meningkat signifikan dibandingkan periode pra-hilirisasi, menjadikan sektor ini salah satu penyumbang surplus perdagangan terbesar. Di sektor agro, meskipun transformasinya lebih bertahap, ekspor produk turunan kelapa sawit—seperti oleokimia dan biodiesel—juga menunjukkan tren peningkatan nilai tambah dibandingkan ekspor CPO mentah.
Namun, penting dicatat bahwa hilirisasi belum sepenuhnya mengubah kerentanan ekspor Indonesia . Sekitar 70 persen ekspor masih berbasis sumber daya alam, dan sebagian besar produk hilir masih berada pada tahap mid-stream , dengan ketergantungan tinggi pada pasar tertentu, terutama China. Artinya, meskipun nilainya semakin meningkat, sensitivitas terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok dan volatilitas global belum sepenuhnya menurun.
Dengan meredanya perang dagang AS–China, efek trade diversion diperkirakan menyusut secara bertahap pada tahun 2026. Produk manufaktur China yang kembali kompetitif berpotensi merebut kembali pangsa pasar di AS, sementara insentif bagi perusahaan multinasional untuk merelokasi basis produksi dari China ke negara lain menjadi berkurang. Dalam kondisi ini, keinginan ekspor Indonesia akan semakin bergantung pada daya saing intrinsik sektor hilir , bukan lagi pada distorsi tarif global.
Risiko eksternal juga masih signifikan. Proyeksi Dana Moneter Internasional menunjukkan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 bertahan di kisaran 3 persen, dengan risiko penurunan dari perlambatan Tiongkok dan normalisasi kebijakan moneter global. Dalam skenario ini, harga komoditas cenderung fluktuatif, sehingga ketahanan ekspor Indonesia sangat ditentukan oleh seberapa jauh produk hilir mampu menembus pasar dengan elastisitas permintaan yang lebih stabil.
Untuk tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 5,0–5,1 persen, dengan konsumsi domestik dan belanja pemerintah sebagai penopang utama. Dari sisi eksternal, surplus perdagangan diperkirakan menyempit seiring normalisasi tarif global. Di akhir hilirisasi berperan sebagai penyangga : bukan untuk menjaga surplus besar seperti tahun 2025, tetapi untuk menahan pelemahan ekspor dan menjaga kualitas pertumbuhan.
Namun, keberhasilan hilirisasi ke depan tidak cukup hanya bergantung pada larangan ekspor bahan mentah atau pembangunan smelter. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan hilirisasi ke produk akhir , memperkuat keterkaitan dengan industri domestik, serta memastikan alih teknologi dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Tanpa itu, hilirisasi berisiko berhenti sebagai peningkatan nilai nominal ekspor, bukan transformasi struktur ekonomi.
Normalisasi hubungan dagang AS-China seharusnya dibaca sebagai sinyal strategi. Fase ini menyediakan jendela kebijakan bagi Indonesia untuk menyempurnakan agenda hilirisasi: menyelaraskan insentif fiskal dengan target ekspor bernilai tambah, mempercepat diversifikasi pasar ke Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan, serta menurunkan biaya logistik dan hambatan nontarif yang selama ini menggerus daya saing produk hilir.
Tanpa konsistensi reformasi struktural tersebut, Indonesia berisiko kembali ke pola lama: menikmati surplus besar ketika kondisi ekonomi global, tetapi cepat tertekan ketika siklus pulih. Dalam perekonomian global yang semakin terfragmentasi, ketahanan ekspor tidak lagi ditentukan oleh besarnya sumber daya alam, melainkan oleh peningkatan kemampuan pengubahan menjadi produk bernilai tinggi yang kompetitif, adaptif, dan berkelanjutan.