![]() |
|
Dibaca : 9892 x Artikel Rabu, 12 Februari 2025 Penerimaan Pajak 2024 dan Tantangan 2025: Antara Realitas dan Harapan
Dr. Rakhmat, SE, MSE Kalau kita bicara soal penerimaan pajak 2024, datanya
jelas: realisasi perpajakan hanya tumbuh 3,64%, jauh di bawah rata-rata
pertumbuhan pajak 2002-2024 yang mencapai 12%. Ini bukan sekadar angka, tapi
cerminan dari tantangan yang dihadapi ekonomi kita tahun lalu. Konsumsi
masyarakat tumbuh 4,94%, tapi ada indikasi daya beli melemah. Investasi (PMTB)
juga hanya tumbuh 4,61%, lebih rendah dari rerata historisnya. Kalau ekonomi
tumbuh, tapi pajak jalan di tempat, artinya ada dua kemungkinan: basis pajak yang
sempit atau tingkat kepatuhan yang belum optimal. Atau bisa jadi, keduanya. Yang menarik, penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Badan
malah lebih rendah dibanding 2023. Di sisi lain, PPh Pasal 21 yang dipotong
langsung dari pekerja justru naik. Ini memberi indikasi bahwa perusahaan belum
pulih sepenuhnya pasca pandemi, sementara pekerja tetap membayar pajaknya
seperti biasa. Ini juga bisa jadi sinyal bahwa dunia usaha mulai berhitung
lebih ketat terhadap beban pajak mereka. Lalu bagaimana dengan 2025? Pemerintah menargetkan
pertumbuhan perpajakan 11,56%, sementara asumsi pertumbuhan ekonomi hanya
5,20%. Artinya, penerimaan pajak harus tumbuh dua kali lipat lebih cepat dari
ekonomi riil. Apakah ini realistis? Butuh effort luar biasa. Perluasan basis
pajak tentu penting, tapi kalau caranya dengan menaikkan tarif atau penegakan
pajak yang terlalu agresif, ada risiko ekonomi melambat. Apalagi, daya beli masyarakat masih dalam tekanan.
Indeks Keyakinan Konsumen cenderung menurun, dan pertumbuhan simpanan perbankan
juga melambat. Kalau tekanan pajak terlalu besar, bisa-bisa konsumsi justru
melemah, dan itu berdampak langsung ke pertumbuhan ekonomi. Belum lagi risiko
eksternal: ketidakpastian ekonomi global, suku bunga tinggi di AS, dan
perlambatan ekonomi China yang bisa mengganggu ekspor kita. Di sisi lain, belanja perpajakan (tax expenditures)
masih besar. Kalau ini bisa disisir lebih tajam, mungkin ada ruang untuk
meningkatkan penerimaan tanpa harus menekan masyarakat atau dunia usaha lebih
jauh. Insentif pajak yang diberikan selama ini juga perlu dievaluasi: apakah
benar-benar efektif dalam mendorong investasi, atau justru banyak dinikmati
oleh segelintir kelompok saja? Strategi Meningkatkan Penerimaan
Pajak 2025 Tanpa Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Untuk mencapai target perpajakan 2025 tanpa
mengorbankan pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu menerapkan strategi yang
lebih cermat dan berbasis insentif. Beberapa langkah yang dapat dilakukan
antara lain: Kesimpulannya, 2025 adalah tahun yang penuh tantangan.
Menaikkan target perpajakan memang penting, tapi kalau tidak dibarengi dengan
strategi yang realistis, justru bisa kontraproduktif. Pemerintah perlu
memastikan bahwa kebijakan pajak tetap pro-pertumbuhan, tidak hanya fokus
mengejar penerimaan dalam jangka pendek, tapi juga menjaga momentum ekonomi
dalam jangka panjang. Karena pada akhirnya, pajak yang berkelanjutan itu bukan
sekadar soal tarif atau penegakan, tapi soal bagaimana ekonomi bisa tumbuh
sehat dan inklusif. ![]() Dosen STIE MULIA PRATAMA Arsip Artikel: Rabu, 15 Juli 2026 Ironi Digitalisasi Pajak: Ketika Sistem Baru Berjalan, Penerimaan Justru Menyusut Jumat, 08 Mei 2026 Danantara dan GoTo: Ketika Negara Masuk ke Pasar Kamis, 07 Mei 2026 Saat Pasar dan Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan Rabu, 06 Mei 2026 Depresiasi Rupiah dan Stabilitas Makroekonomi: Antara Tekanan Global dan Kredibilitas Kebijakan Sabtu, 02 Mei 2026 Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Jalan Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap Jumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan Indonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global Jumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan aindonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global Minggu, 26 April 2026 DPD RI dan Ancaman Sentralisasi Fiskal: Ketika Suara Daerah Kian Meredup Kamis, 23 April 2026 Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang? Senin, 20 April 2026 Menjaga Stabilitas atau Sekadar Menjaga Surplus? Refleksi Kritis Kinerja LPS 2025
|
|
popular pages | login | © September 2024 . All Rights Reserved. |