Dibaca : 9883 x
ArtikelKamis, 13 Maret 2025 Kelemahan Penerapan Teknologi Carbon Capture Storage (CCS)
 Meskipun Carbon Capture Storage (CCS) dianggap sebagai solusi inovatif untuk mengurangi emisi karbon, teknologi ini masih memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan, terutama bagi Pertamina Hulu Energi (PHE) yang berencana mengimplementasikannya.
1. Biaya Investasi yang Tinggi
Proses pengembangan dan instalasi teknologi CCS memerlukan biaya yang sangat besar, mulai dari infrastruktur, transportasi karbon, hingga proses penyimpanan di bawah tanah.
Selain itu, biaya operasional dan perawatan juga cukup tinggi, yang dapat membebani perusahaan dalam jangka panjang.
2. Konsumsi Energi yang Tinggi
Proses penangkapan karbon membutuhkan energi yang besar, yang justru dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar fosil jika tidak diimbangi dengan sumber energi terbarukan.
Hal ini dapat menciptakan "paradoks energi" di mana emisi tambahan justru dihasilkan dari proses CCS itu sendiri.
3. Risiko Kebocoran Karbon
Penyimpanan karbon di bawah tanah memiliki risiko kebocoran, yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.
Kebocoran CO2 juga dapat menyebabkan pencemaran air tanah dan meningkatkan risiko gempa mikro (microseismic activity).
4. Keterbatasan Lokasi Geologi
Tidak semua wilayah memiliki formasi geologi yang cocok untuk menyimpan karbon di bawah tanah.
Lokasi yang ideal untuk CCS seringkali berada jauh dari lokasi industri, sehingga membutuhkan infrastruktur transportasi karbon yang mahal dan kompleks.
5. Ketergantungan pada Industri Migas
CCS sering digunakan dalam Enhanced Oil Recovery (EOR), yaitu proses meningkatkan produksi minyak dengan menyuntikkan CO2 ke dalam sumur minyak tua.
Hal ini justru memperpanjang usia penggunaan bahan bakar fosil, yang bertentangan dengan tujuan transisi energi bersih.
6. Kurangnya Dukungan Regulasi di Indonesia
Regulasi terkait CCS di Indonesia masih terbatas dan belum sepenuhnya mendukung implementasi teknologi ini.
Kurangnya insentif fiskal dan dukungan dari pemerintah juga menjadi hambatan besar.
Kesimpulan
CCS memang memiliki potensi besar dalam mengurangi emisi karbon, namun PHE perlu mempertimbangkan tantangan biaya, risiko lingkungan, dan keterbatasan teknologi sebelum mengimplementasikannya. Kolaborasi dengan pemerintah dan investor global sangat penting untuk memastikan keberhasilan teknologi ini di Indonesia.
 Dr. Rachmat, SE, MSE
Dosen STIE MULIA PRATAMA Arsip Artikel: Rabu, 15 Juli 2026 Ironi Digitalisasi Pajak: Ketika Sistem Baru Berjalan, Penerimaan Justru MenyusutJumat, 08 Mei 2026 Danantara dan GoTo: Ketika Negara Masuk ke PasarKamis, 07 Mei 2026 Saat Pasar dan Publik Mulai Kehilangan KepercayaanRabu, 06 Mei 2026 Depresiasi Rupiah dan Stabilitas Makroekonomi: Antara Tekanan Global dan Kredibilitas KebijakanSabtu, 02 Mei 2026 Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Jalan Indonesia Keluar dari Middle-Income TrapJumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan Indonesia ditengah Transformasi Ekonomi GlobalJumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan aindonesia ditengah Transformasi Ekonomi GlobalMinggu, 26 April 2026 DPD RI dan Ancaman Sentralisasi Fiskal: Ketika Suara Daerah Kian MeredupKamis, 23 April 2026 Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?Senin, 20 April 2026 Menjaga Stabilitas atau Sekadar Menjaga Surplus? Refleksi Kritis Kinerja LPS 2025Arsip Artikel..
|