Dibaca : 9924 x

Artikel
Jumat, 06 Desember 2024
Alasan Nilai Target Pertumbuhan Ekonomi 2025 Bisa Tercapai Kisaran 5-6% saat Masa Transisi

Alasan Nilai Target Pertumbuhan Ekonomi 2025 Bisa Tercapai Kisaran 5-6% saat Masa Transisi
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 di kisaran 5-6% bisa tercapai meskipun berada dalam masa transisi, dengan alasan berikut:

1. Stabilitas Makroekonomi

- Inflasi yang Terkendali:
Bank Indonesia (BI) optimistis tingkat inflasi dalam negeri akan terus terkendali pada 2024 bahkan hingga 2025. Menurut BI, kestabilan inflasi merupakan buah dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID). “Melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah,” tertulis dalam keterangan resmi BI, seperti dikutip pada Sabtu, 2 November 2024.

- Cadangan Devisa yang Kuat:
Posisi cadangan devisa yang baik dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, penting bagi investasi dan perdagangan internasional.
Sebelumnya, BI melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2024 tercatat sebesar US$ 151,2 miliar. Realisasi tersebut meningkat US$ 1,3 miliar dari sebelumnya US$ 149,9 miliar.

Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Data tersebut menunjukkan, cadangan devisa setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.


2. Program Hilirisasi Industri


- Peningkatan Nilai Tambah Ekspor:
Program hilirisasi komoditas seperti nikel, bauksit, dan batu bara mendorong produk ekspor bernilai tambah tinggi.

- Dukungan Investasi Asing:
Pemerintah memberikan insentif untuk industri berbasis teknologi dan pengolahan, menarik investasi besar.



3. Transformasi Energi dan Infrastruktur

- Transisi ke Energi Terbarukan:
Investasi di energi hijau, seperti PLTS dan PLTB, membuka lapangan kerja baru sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

- Proyek Infrastruktur Besar: Jalan tol, pelabuhan, bandara, dan rel kereta api terus dibangun, meningkatkan konektivitas antarwilayah dan efisiensi distribusi.


4. Peran Konsumsi Domestik

- Kekuatan Pasar Dalam Negeri:
Dengan populasi lebih dari 270 juta, konsumsi domestik tetap menjadi motor utama perekonomian.

- Kenaikan Kelas Menengah: Meningkatnya pendapatan kelas menengah mendukung sektor barang dan jasa.


5. Akselerasi Ekonomi Digital

- Adopsi Teknologi Tinggi:
Peningkatan penetrasi internet dan digitalisasi sektor UMKM memperluas pasar dan produktivitas.

- Ekonomi Digital yang Tumbuh Pesat: Sektor e-commerce, fintech, dan startup di Indonesia berkembang dengan pesat, menyumbang signifikan terhadap PDB.


6. Reformasi Kebijakan dan Regulasi

- Undang-Undang Cipta Kerja:
Mendorong efisiensi investasi dan menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif.

- Kesiapan IKN (Ibu Kota Nusantara):
Pembangunan ibu kota baru memicu lonjakan investasi di sektor konstruksi, properti, dan jasa pendukung.


7. Dukungan dari Sektor Keuangan

- Ekspansi Kredit:
Bank Indonesia terus mendorong ekspansi kredit untuk sektor produktif, khususnya bagi UMKM dan usaha rintisan.

- Peningkatan Investasi di Pasar Modal: Tingginya minat investor lokal dan asing terhadap obligasi dan saham mendukung stabilitas pembiayaan.

Masa transisi, baik dalam hal ekonomi global maupun kebijakan domestik, dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan dengan memanfaatkan kombinasi stabilitas makroekonomi, transformasi struktural, dan kekuatan konsumsi domestik. Kunci keberhasilan terletak pada implementasi kebijakan yang konsisten dan kemampuan menghadapi dinamika global.



Dr. Rachmat, SE, MSE
Dosen STIE MULIA PRATAMA

Arsip Artikel:

Rabu, 15 Juli 2026
Ironi Digitalisasi Pajak: Ketika Sistem Baru Berjalan, Penerimaan Justru Menyusut

Jumat, 08 Mei 2026
Danantara dan GoTo: Ketika Negara Masuk ke Pasar

Kamis, 07 Mei 2026
Saat Pasar dan Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan

Rabu, 06 Mei 2026
Depresiasi Rupiah dan Stabilitas Makroekonomi: Antara Tekanan Global dan Kredibilitas Kebijakan

Sabtu, 02 Mei 2026
Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Jalan Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap

Jumat, 01 Mei 2026
Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan Indonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global

Jumat, 01 Mei 2026
Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan aindonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global

Minggu, 26 April 2026
DPD RI dan Ancaman Sentralisasi Fiskal: Ketika Suara Daerah Kian Meredup

Kamis, 23 April 2026
Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang?

Senin, 20 April 2026
Menjaga Stabilitas atau Sekadar Menjaga Surplus? Refleksi Kritis Kinerja LPS 2025

Arsip Artikel..


Mengenai Saya:

Dr. Rakhmat, SE, MSE

Saya adalah dosen di Kampus STIE MULIA PRATAMA dan juga sebagai tenaga ahli di DPR RI Komisi XI

Artikel Popular:


RUU Migas masih belum dibahas DPR
Proyeksi Nilai Tukar 2025: Antara Defisit Transaksi Berjalan dan Ketidakpastian Global
Menjaga Independensi Bank Indonesia dari Tarikan Politik
Syarat Untuk Menjadi Kampus Terbaik di Indonesia Versi QS WUR
Menggagas Ide Soehartonomics untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Resiko Burden Sharing bagi Bank Indonesia: Sebuah Tinjauan
Kasus Dana CSR BI. Apa yang sebenarnya terjadi?