![]() |
|
Dibaca : 9961 x Artikel Jumat, 13 Desember 2024 Menjawab Tantangan Pemilu Mahal dan Partisipasi Rendah
Menurut data Kementerian Dalam
Negeri, pemilu serentak 2024 diperkirakan menelan biaya hingga Rp135 triliun,
mencakup pemilihan presiden, legislatif, serta kepala daerah. Sementara itu,
partisipasi pemilih untuk pemilihan presiden dan legislatif menurun dari angka
81,9% pada pemilu 2019 menjadi sekitar 81,79 % ditahun 2024. Sedangkan untuk
pemilihan kepala daerah Tingkat partisipasi pemilih lebih besar lagi penurunannya hanya mencapai 71 %, sebagaimana
dilaporkan Komisi Pemilihan Umum. Biaya besar ini menimbulkan pertanyaan
serius: apakah pengeluaran sebesar itu efektif dalam mendorong partisipasi
publik dan menghasilkan pemerintahan yang lebih baik? Atau, apakah kita
memerlukan model pemilu yang lebih efisien dan tetap bermakna? Pertanyaan-pertanyaan
ini menjadi relevan ketika Indonesia, setiap lima tahun sekali, dihadapkan pada
pemilu yang tidak hanya menguras anggaran, tetapi juga menimbulkan pertanyaan
besar tentang efektivitasnya dalam memperkuat demokrasi dan menyejahterakan
rakyat. Tantangan Pemilu di Indonesia Dalam penyelenggaraan pemilu di
Indonesia, khususnya pemilihan kepala daerah, pengeluaran yang sangat besar
sering kali membuka ruang bagi politik uang dan korupsi. Kandidat yang terpilih
sering kali memiliki kewajiban moral untuk "membalas budi" kepada
donatur kampanye mereka, yang kemudian mengorbankan kepentingan publik.
Sementara itu, masyarakat yang diharapkan terlibat aktif dalam menentukan
pemimpin justru mulai apatis. Beberapa penyebab utama menurunnya partisipasi
politik antara lain, pertama Banyak
masyarakat merasa bahwa pemilu tidak membawa perubahan nyata. Mereka melihat
bahwa meskipun pemimpin baru terpilih, masalah-masalah mendasar seperti
korupsi, ketidakadilan, dan layanan publik yang buruk masih tetap ada.
Kepercayaan yang rendah terhadap kemampuan pemerintah untuk memenuhi
janji-janji kampanye memperparah sikap apatis masyarakat. Kedua, semakin maraknya
politik uang mengubah persepsi masyarakat terhadap nilai demokrasi. Pemilu yang
idealnya menjadi ruang untuk menyuarakan aspirasi rakyat justru sering kali
dianggap sebagai ajang transaksi ekonomi. Kandidat yang mampu mengeluarkan dana
besar untuk "membeli" suara cenderung diuntungkan, sehingga mengikis
esensi demokrasi itu sendiri. Akibatnya, masyarakat yang tidak menerima manfaat
langsung dari politik uang merasa tidak berkepentingan untuk ikut serta dalam
pemilu. Ketiga, rendahnya pemahaman
masyarakat tentang pentingnya partisipasi politik menjadi tantangan tersendiri.
Pendidikan politik yang kurang intensif membuat sebagian besar pemilih tidak
menyadari dampak dari keputusan politik mereka terhadap kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, banyak masyarakat yang lebih memilih bersikap pasif atau tidak
menggunakan hak pilih mereka. Usulan Model Pemilu yang Lebih
Efisien Untuk menjawab tantangan
tersebut, diperlukan reformasi sistem pemilu di Indonesia. Salah satu usulan
yang relevan adalah mengadopsi model pemilu yang lebih sederhana dan hemat
biaya, tanpa mengurangi esensi demokrasi. Usulan pertama adalah untuk Pemilihan gubernur dan bupati/wali kota cukup
dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota. Model ini memungkinkan efisiensi biaya karena tidak memerlukan
logistik besar-besaran seperti pemilu langsung. Selain itu, pengawasan terhadap
kandidat yang dipilih oleh DPRD dapat lebih ketat karena melibatkan proses
seleksi di tingkat legislatif. Usulan kedua, Pemilihan presiden sebagai simbol
utama demokrasi di tingkat nasional tetap dilakukan secara langsung oleh
rakyat. Hal ini menjaga semangat partisipasi publik dalam menentukan arah
kepemimpinan negara. Pemilu presiden yang dilakukan langsung juga mencerminkan
aspirasi masyarakat secara luas dan tetap relevan dengan prinsip demokrasi
substantif. Belajar dari Negara Lain Beberapa
negara telah menunjukkan bagaimana efisiensi dalam sistem pemilu dapat
diimplementasikan tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat. Singapura adalah negara yang dikenal dengan sistem semi-demokratis yang
menekankan efisiensi dan stabilitas. Pemilu di Singapura dijalankan secara
ketat dengan aturan yang dirancang untuk meminimalkan biaya dan memastikan
transparansi. Partai Aksi Rakyat (PAP), yang dominan, memiliki kendali kuat
terhadap pemerintahan, sehingga proses pemilu lebih sederhana dibandingkan
negara-negara dengan kompetisi politik yang intens. Pemerintah Singapura fokus
pada pengelolaan sumber daya secara efisien untuk menciptakan kesejahteraan
rakyat, seperti menyediakan perumahan yang terjangkau dan layanan kesehatan
berkualitas. Meskipun ada kritik terhadap keterbatasan kebebasan politik,
stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi negara ini menjadikannya contoh
bagaimana sistem semi-demokratis dapat mendukung pembangunan. Selain Singapura,
kita juga dapat mencermati Pemilihan
kepala daerah di Malaysia dilakukan melalui Dewan Legislatif Negara Bagian
(State Legislative Assembly), bukan melalui pemilu langsung oleh rakyat. Hal
ini mengurangi biaya besar yang biasanya terkait dengan kampanye dan
penyelenggaraan pemilu. Sementara pemilihan di tingkat nasional untuk anggota
parlemen dan perdana menteri tetap dilakukan secara langsung, pemilu kepala
daerah yang lebih terpusat memungkinkan fokus pada efisiensi administrasi.
Malaysia juga memanfaatkan teknologi dan aturan ketat dalam proses pemilu untuk
memastikan integritas dan efisiensi. Menjaga Makna Demokrasi Perubahan model pemilu semacam
ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi bahwa
demokrasi sedang dilemahkan. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah strategis
guna memastikan nilai-nilai demokrasi tetap terjaga, meskipun dilakukan
penyesuaian dalam mekanismenya. Kesimpulan Fenomena pemilu mahal dengan
partisipasi rendah menuntut reformasi mendasar pada sistem demokrasi Indonesia.
Dengan mengadopsi model pemilu yang lebih efisien, seperti pemilihan kepala
daerah oleh DPRD dan tetap mempertahankan pemilu langsung untuk presiden,
Indonesia dapat mengurangi beban biaya politik sekaligus mempertahankan nilai
demokrasi. Reformasi ini membutuhkan komitmen bersama untuk menciptakan sistem
politik yang tidak hanya efisien, tetapi juga mampu mewujudkan kesejahteraan
bagi seluruh rakyat. ![]() Dosen STIE MULIA PRATAMA Arsip Artikel: Rabu, 15 Juli 2026 Ironi Digitalisasi Pajak: Ketika Sistem Baru Berjalan, Penerimaan Justru Menyusut Jumat, 08 Mei 2026 Danantara dan GoTo: Ketika Negara Masuk ke Pasar Kamis, 07 Mei 2026 Saat Pasar dan Publik Mulai Kehilangan Kepercayaan Rabu, 06 Mei 2026 Depresiasi Rupiah dan Stabilitas Makroekonomi: Antara Tekanan Global dan Kredibilitas Kebijakan Sabtu, 02 Mei 2026 Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Jalan Indonesia Keluar dari Middle-Income Trap Jumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan Indonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global Jumat, 01 Mei 2026 Refleksi Hari Buruh 2026 :Tantangan Ketenagakerjaan aindonesia ditengah Transformasi Ekonomi Global Minggu, 26 April 2026 DPD RI dan Ancaman Sentralisasi Fiskal: Ketika Suara Daerah Kian Meredup Kamis, 23 April 2026 Audit Triliunan dan Rapuhnya Negara: Mengapa Kebocoran Fiskal Terus Berulang? Senin, 20 April 2026 Menjaga Stabilitas atau Sekadar Menjaga Surplus? Refleksi Kritis Kinerja LPS 2025
|
|
popular pages | login | © September 2024 . All Rights Reserved. |